Kalau diperhatikan sebetulnya rasa sakit itu adalah mekanisme pertahanan yang paling hebat untuk semua mahluk hidup di manapun. Lho? Gimana bisa?

Rasa sakit itu alert system terhadap sesuatu yang kelihatannya bakal merusak bagi vehicle yang kita kenakan saat ini (baca: tubuh). Well, kalian mesti baca dulu tulisan saya sebelumnya yang menjelaskan bahwa semua mahluk hidup itu adalah astronot yang sedang ditugaskan oleh higher being yang oleh setiap agama disebut Tuhan atau Dewa.

Kembali ke rasa sakit, semua sensor yang ada pada permukaan tubuh yang dinamakan sebagai indera perasa akan memberikan sinyal bahaya berupa rasa sakit ke pusat kontrol yang lalu memberikan perintah pada bagian terkait untuk segera menghindar. Apakah itu terkena benda panas, terkena benda tajam.

Pencipta kita tidak memberikan buku petunjuk karena sebetulnya buku petunjuk yang paling baik itu adalah pengalaman. Oleh karena itu menurut saya ketika pertama kali kita bertugas/dilahirkan (dengan mengenakan baju tubuh ini) kita hanya punya bekal naluri hidup. Survival kit lainnya akan kita dapatkan seiring dengan berjalannya waktu. Pola yang sama juga terjadi pada mahluk lain, tentunya dengan cara mereka masing-masing.

Seorang anak tidak akan tahu bahwa setrika yang menyala itu panas dan menyakitkan. Ia akan belajar bahwa setrika (yang sedang menyala) itu panas saat ia bersentuhan langsung dan secara refleks ia menghindar dan menangis atau, dengan kemampuan berkomunikasi yang manusia miliki, maka orang tua akan memberitahu dengan cara yang terbaik tentunya sehingga si anak tahu dan sadar tentang perasaan sakit yang akan ia alami berkenaan dengan resiko-resiko yang mungkin akan terjadi. That’s how we learn.

Perasaan yang tidak menyenangkan itu akan membangun trauma yang lalu secara naluri akan dihindari. Maka terbentuklah sistem pertahanan secara proaktif yang dibangun dari pengalaman reaktif di awal.

Kenapa kita harus risau jika ancaman-ancaman sakit tersebut hanya akan menyentuh vehicle yang kita gunakan, dalam hal ini tubuh kita? Ya sederhananya karena sejak kita ditugaskan, tubuh yang kita kenakan ini sudah menjadi satu kesatuan, dan semua sistem pertahanan tersebut memberikan peringatan dari perasaan yang tidak menyenangkan (rasa sakit). Jadi regardless kita berpikir bahwa itu “hanya” tubuh kita yang terdampak, namun kita menyebutnya ya kita (secara keseluruhan) yang terdampak.

Begitu kira-kira…:-)

Photo by Diana Polekhina on Unsplash