Dalam pencarian solusi, langkah dasar yang terpenting adalah empathize atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai berempati.

Apa sih artinya empathize itu? Empathize atau berempati itu adalah memahami atau merasakan apa yang dialami oleh orang lain dari dalam kerangka acuan sudut pandang mereka, atau dengan kalimat yang lebih singkat adalah kapasitas untuk menempatkan diri pada posisi orang lain.

Mungkin belum banyak yang tahu (atau malah kebalikannya, semua sudah pada tahu) bahwa empathize ini adalah langkah awal pada metode Design Thinking, dimana sebelum kita menentukan permasalahan yang ada kita berusaha untuk “merasakan” sendiri agar bisa tahu permasalahan yang sebenarnya untuk kemudian bisa dilanjutkan ke langkah-langkah selanjutnya yang berujung pada problem solving atau solution finding.

Banyak dari kita mencoba memecahkan sebuah masalah, terjebak dengan pencarian solusi dari satu sisi saja, dan ironisnya permasalahan tersebut dilihat bukan dari sudut pandang yang terkena masalah tersebut melainkan sisi pencari solusi, dan ini menjadikan hasilnya jadi sangat mungkin meleset. Salah satu langkah yang sering dilewati justru langkah pondasi atau di awal yang disebut dengan empathize ini.

Problem yang sering dihadapi sehingga kita sering missed pada langkah empathize ini bermacam-macam, salah satunya adalah ingin cepat-cepat kelar dan sangat yakin bahwa apa yang kita rasakan sudah pasti mewakili pengguna yang ingin kita bantu pecahkan masalahnya. Sehingga saat jadi, pemecahannya jadinya didasari oleh asumsi. Ini yang membuat seluruh proses pencarian solusi jadi wasted.

Ingin memiliki Design Thinking mindset?, mulailah dengan membiasakan diri melakukan empathize atau berempati.

Tertarik untuk belajar tentang Design Thinking? Silahkan tinggalkan pesan di kolom komen atau silahkan hubungi saya via media sosial yang terlampir di blog ini ya

Photo created by rawpixel.com – www.freepik.com