Saya yakin kita semua punya makanan favorit. Saya pribadi suka sama sate, pempek, masakan padang (hampir semua). Anda juga pasti punya makanan atau pun minuman favorit yang tentunya disebabkan karena rasa yang sesuai dengan selera. Tidak ada yang salah punya makanan favorit hanya saja menurut saya wawasan kita tentang rasa ini jangan sampai terkunci pada satu keharusan.

Saya ingat dimasa kecil dulu pernah ikutan summer school di California (ya pada saat itu keluarga kami cukup mampu untuk melakukan hal-hal seperti ini), tinggal di satu keluarga Mormon (program homestay) dan mulailah gegar budaya dalam konteks rasa itu terjadi di awali dengan menerima kenyataan bahwa alpukat (avocado) itu adalah semacam saus cocolan bercita rasa asin, dimana saya keburu menganut bahwa alpukat itu ada jus dengan campuran susu kental manis dan gula merah cair. Pendapat saya tentang alpukat tersebut juga membuat homestay parent saya terkaget-kaget, ya sama seperti saya, dikepala mereka tidak pernah terbayangkan alpukat dijadikan jus a.k.a minuman manis segar.

Kita semua sudah terdoktrin oleh rasa yang diperkenalkan dan sudah ditentukan yang mana yang enak dan pantas serta yang mana yang tidak. Doktrin ini suka atau tidak jadi belenggu bagi banyak orang yang mungkin lidahnya tidak se adventurous lidah almarhum Anthony Bourdain yang bisa menerima beragam jenis makanan terlepas dari doktrin yang ia terima, atau mungkin saja Anthony Bourdain memang tidak pernah kena doktrin rasa sepanjang hidupnya.

Seberapa penting peranan indera perasa dalam hidup kita? Bagi orang-orang yang tidak terlalu terganggu oleh opini yang tersimpan dalam memori kita tentang sebuah rasa, mungkin tidak akan terlalu bermasalah (sepertinya ya), tapi bagi para garis keras bahwa telur yang kulitnya berwarna biru muda itu harus asin dan telur yang kulitnya berwarna coklat/putih itu tidak asin, saya rasa akan sulit.

Ayah saya baru pulang dari rumah sakit, dan karena dirawat di rumah sakit tersebut membuat semua permasalahan dalam tubuhnya terkuat, plus masalah-masalah baru muncul. Ini mungkin karena usianya yang sudah 81 tahun. Masalah yang saya ingin angkat adalah dia kehilangan kemampuan untuk merasakan rasa asin yang menyebabkan sulit bagi dirinya untuk makan karena semua makanan yang harusnya ada rasanya ini jadi tidak sempurna. Dan hal ini membuat dirinya sulit makan. Mulutnya menolak untuk memakan telur asin walaupun saya bilang ini telur biasa karena secara fisik memang telur asin. Mulutnya bisa menerima makanan-makanan yang manis, hanya saja jadi ada yang kurang karena setiap makanan itu pada dasarnya adalah kombinasi beragam rasa, dengan satu rasa yang dominan, misalnya asin atau manis.

Apakah mungkin kita mengalihkan rasa makanan yang sudah tersimpan berpuluh-puluh tahun dalam memori kita supaya kita bisa menerimanya? Saya tidak bisa menjawabnya. Walaupun sepertinya bisa, namun karena sangat sulit untuk ikut merasakannya maka saya tidak berani berpendapat. Salah satu pendapat yang saya miliki, jelas lidah kita sudah terdoktrin oleh rasa semenjak kita bisa membedakan rasa tersebut saat kita masih kecil dahulu.

Apakah mungkin kita makan tanpa mengindahkan rasa? Apakah mungkin kita terlepas dari doktrin rasa?

Saya tinggalkan pertanyaan ini bagi Anda untuk berpendapat.

Photo by cottonbro on Pexels.com