Setiap manusia itu pasti memiliki value yang terbentuk dan diakui oleh masyarakat sekitar mereka. Value-value yang dimiliki itu akan membentuk branding berdasarkan value tersebut, suka apa tidak suka, sehingga muncullah asosiasi-asosiasi yang ditempelkan pada seseorang karena value dan branding yang terbentuk tersebut. Saya ambil contoh, misalnya saya mengenal seorang Deddy Corbuzier diawal-awal karirnya adalah seorang pesulap, sehingga setiap kali mendengar ada yang menyebut nama Deddy Corbuzier, maka yang terbayang adalah seorang pesulap dengan dandanan seperti drakula.

Ya tentunya Deddy Corbuzier yang sekarang berbeda dengan yang dulu, sehingga kalau saya bilang bahwa Deddy Corbuzier itu seorang pesulap yang berdandan ala drakula, pasti akan diketawain, karena seorang Deddy Corbuzier saat ini adalah seorang podcaster papan atas dengan rambut plontos dan berbadan tegap ala binaragawan.

Apa yang bisa kita pelajari dari Deddy Corbuzier? Tentu saja ia berhasil mengubah branding yang sudah terbangun di masa lalu menjadi new Deddy Corbuzier yang sekarang. Selain branding, value yang ia miliki pun berubah. Jika kita bicara program-program podcast yang diproduksi dengan baik ya kita jadi ingat Deddy.

Di dunia yang sangat kompetitif seperti sekarang ini, value menjadi sebuah pertimbangan untuk memenangkan kompetisi. Kalau tadi Deddy berpindah branding untuk membesarkan value yang lain dari seorang Deddy yang pesulap, maka orang-orang seperti kita akan berkompetisi dengan cara menyajikan value untuk memenangkan kompetisi. Employer akan lebih suka memilih seorang web manager yang juga bisa membuat dan mengedit konten ketimbang seorang web manager yang hanya bisa memanage web saja, walaupun itu sesuai dengan job desc yang ditawarkan padanya. Seorang specialist harus benar-benar memiliki prestasi setinggi langit untuk bisa diakui dan karyanya dipakai dengan harga yang tinggi. Jika tidak ya mereka harus berkompetisi dengan specialis-specialist yang sama yang mungkin punya value lebih di mata employer.

Saya ingat sewaktu masih tinggal di New York City puluhan tahun yang lalu, saya selalu terkagum-kagum dengan pengamen-pengamen di Subway Station yang tidak hanya bisa memainkan musik namun juga punya suara bagus, dan karya lagu original yang keren-keren. Saya saat itu berpendapat bahwa andai saja pengamen dengan talent sebanyak itu ada di Indonesia maka mungkin dia akan segera jadi artis papan atas. Pertanyaan saya pada saat itu kenapa di NYC mereka tidak bisa segera take off jadi artis terkenal? Jawabannya satu…..kompetisi yang sulit. Bahkan dengan talent sebanyak itu saja value mereka sebagai artis belum bisa bersaing, karena memang banyak artis-artis sejenis dengan talent banyak dan juga keren-keren. Yang sukses tentunya yang berhasil menyajikan value yang dianggap worth it dan potensial oleh para pemberi kesempatan di dunia penuh kompetisi tersebut.

Kembali ke diri kita, jika kita tidak terus menerus memelihara dan kalau bisa menambah terus value yang kita miliki, pada satu saat kita tidak lagi dianggap memiliki value tersebut. Orang-orang yang kenal bahwa kita sebagai orang yang punya sebuah value tertentu makin lama akan makin sedikit karena tergerus oleh waktu.

Jadilah seorang marketer yang baik, jadilah seorang business development manager yang baik, jadilah seorang designer yang baik, dan lain sebagainya. Anda tinggal menambahkan value demi value pada kompetensi utama yang Anda miliki, sehingga saat harus berkompetisi, Anda sudah ada didepan dibandingkan orang-orang yang berprofesi sama dengan Anda.

Photo by William W. Ward.